Surat Tuan Dan Nona.
Surat Dari Tuan Untuk Nona
Hari ini, masih ada segenggam rindu yang mengusik dalam pejamku.
Tentang cara kita berbicara dengan nada yang manja, menonton film kartun
fantasi bersama, hingga candaan aneh yang hanya kita berdua bisa terhibur
karenanya. Sekarang semua sudah menjadi suatu kenangan masih tersimpan rapih
hingga nanti saat waktu menggerusnya dengan perlahan dan pasti.
Walaupun aku bukanlah seseorang yang menyimpan sosok di sebuah
tempat namun tetap saja ada beberapa tempat yang tertanam memori tentangmu
didalamnya. Seperti Pan Kenzi, Rumah Sushi Bali yang mana aku tahu bahwa kamu
suka dengan makanan dari negeri Jepang terutama sushi, Sidewalk Mall, bau
cakrawala dan indah senja Pantai Geger atau tempat cuci Conver dimana kita
sering mengobrol, berbahagia tanpa menghiraukan orang-orang disekeliling kita.
Dan tulisan ini adalah penutup dari hubungan kita yang berakhir
dengan perpisahan. Akibat dari berbagai penyebab yang entah aku atau kita gagal
untuk selesaikan dengan baik, berujung dengan kita yang menjelma aku dan
kamu;dua orang yang pernah berusaha namun gagal bersatu hingga ujung waktu.
Nona, jika aku boleh jujur, tak ada kata siap untuk melepasmu.
Saat kamu pergi tentu saja membawa perasaan yang campur aduk dalam hatiku,
mengundang amarah yang menusuk diri sendiri karena kurang piawai dalam
membahagiakanmu, juga prihal betapa lemahnya kemampuanku untuk merasakan empati
terhadap apa-apa yang sedang kau hadapi. Sedih yang bergemuruh karena
kehilangan sesuatu yang harusnya kujaga sepenuh hati;kamu. Sedih itu mengundang
sepi dan kosong dalam hati, setiap detik dan detakku berjalan dengan lambat
bahkan ketika aku berada di pelukan ibukota;rumahku sendiri. Mendorong perasaan
untuk pergi dari Jakarta menuju ke Pulau Dewata sebagai usaha untuk mengusir
sepi. Namun semua marah dan sedih itu juga dibersamai dengan perasaan lega,
terlepas dari tanggungjawab untuk menjagamu- bukan karena kamu adalah beban,
tapi karena dengan berakhirnya kita, akan menjadi kesempatanmu untuk mencari
dan mendapatkan sesuatu yang kamu butuhkan.
Dua tahun lamanya kita terpatri, tentu saja ada banyak hal baik
dan buruk yang datang karena kehadiranmu dalam hari-hariku. Ada rasa takut yang
tumbuh untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar guna melindungimu dari
rasa cemburu dan kesulitanmu untuk percaya terhadap pasangan yang agak
berlebihan, tak peduli seberapa besar setiaku. Bahkan untuk sekedar urusan
pekerjaan atau hobi bermusik yang sudah menjadi karakterku masih ada khawatir
akan dirimu yang terus mengikuti.
Namun berkatmu juga aku menjadi lebih sering beribadah dan
merasa dekat dengan Tuhan, merasakan rasa sayang yang begitu hebatnya darimu
membuatku sadar bahwa ternyata aku pernah dan pantas dicintai oleh insan lain.
Terlebih kamu telah membuka mataku untuk melihat sesuatu yang sangat sulit
untuk kutemukan, menuntun pikiranku menuju tujuan hidup di masa depan.
Dan setelah beberapa saat dihangatkan oleh beberapa teman,
dipeluk waktu, akhirnya ada rasa damai yang bersemayam dalam dada. Menyisakan
intropeksi terhadap diriku sendiri dan pertanyaan mengenai kesiapanku untuk
kembali menjalin hubungan. Seberapa besar aku rela berkomitmen dalam berkorban
demi suatu ikatan.
Ada beberapa doa paling baik yang kusisipkan untukmu menjalani
hari tanpaku. Semoga kesulitanmu untuk percaya terhadap orang lain bisa mereda
karena hal ini tidak hanya akan menyulitkanmu tapi juga berpengaruh pada
lingkungan sekitarmu. Walaupun kamu pernah disakiti oleh orang-orang di masa
lalu bukan berarti orang-orang di masa depanmu akan melakukan hal yang sama
juga. Setidaknya percayalah nona, bahwa dunia tidak sekejam itu pada sosok
sebaik dirimu. Semoga kamu bisa menjadi lebih mandiri dan terlepas dari
berbagai urusan yang membelenggumu baik di dalam keluarga, rumah, pertemanan,
masa lalu dan masa yang akan datang. Dan semoga kamu bisa mendapatkan sosok
dengan kriteria yang kamu semogakan, yang datang dan menjagamu dengan cara terbaik
bagi dirinya dan dirimu.
Surat Dari Nona Untuk Tuan.
Hari ini, meski masih ada sekelibat rindu dalam hati. Tentang
kamu, tentang kita, tentang hubungan yang mati. Hubungan yang aku sendiri tahu,
memang tak bisa diselamatkan karena aku- Kita sadar untuk tidak lebih
memaksakan lagi.
Aku mau sedikit bercerita tentangnya, entah untuk mengundang
lega atau sekedar memberikan seorang teman inspirasi untuk berkarya. Mungkin
kamu tidak tahu bahwa disaat hubungan ini usai, aku sempat hancur seada-adanya.
Aku merasa tak ada lagi harapan yang dapat terlihat mata. Saat aku membayangkan
bahwa aku kehilangan kebiasaan-kebiasaan yang beberapa waktu lalu kujalani
bersama denganmu.
Seperti tempat bercerita di kala penat mengganggu, makan di
kedai makanan yang menjual nasi bungkus
bertema jepang di seberang gang kostku. Kebiasaan dimana bersama aku menaruh
pakaian kotor di tempat laundry.
Kebiasaan saat kau memetik nada dari senar gitar dan aku melantunkan melodi
sebuah lagu dengan syahdu. Kebiasaan untuk bersama menjalani ibadah pagi di
hari minggu. Dan ketika semuanya berlalu aku pun tersadar bahwa aku berduka
bukan karena kehilangan dirimu, tapi karena aku kehilangan kita.
Mie Bandung Kejaksaan, Sushi Tei adalah tempat-tempat yang
semula merupakan tempat yang sering kita kunjungi pun sekarang menjadi pilihan
paling terakhir untuk kukunjungi dibandingkan dengan lainnya. Bukan karena
belum beranjak, hanya saja aku yang terlalu malas untuk berurusan dengan
kenangan yang mengandung kamu, mengandung kita disaat aku tahu bahwa “Kita”
sudah tidak berarti kamu dan aku.
Hari ini, duka akan matinya hubungan yang kalut ini pun lambat
laun mereda dibelai waktu. Dibenturkan dengan segala pemikiran akan apa-apa
yang selama ini kutapaki dengan sedikit kompromi dan lebih banyak memaksa untuk
bersama akhirnya melahirkan suatu konklusi yang sebelumnya jauh dari jiwaku.
Disatu sisi, ada senang yang bertengger dalam kepalaku, saat aku
berhasil menjadi bagian dari proses pendewasaanmu, saat aku meluruskan
pandanganmu tentang masa depan yang tak bisa kau temukan dulu. Semua itu kurasakan
saat kutelusuri kenangan yang akan segera terbengkalai di dalam galeriku.
Namun di sisi lainnya, aku merasa bahwa terlalu banyak waktu
yang kubuang dengan percuma. Rekaman terkait dengan semua energi dan usaha yang
tumbang entah untuk apa. Akibat dari luka baru yang terbuka terseset oleh pisau
cerita kita, menyebabkan rasa muak akan hal romansa menyeruak di dalam dada.
Ya, walaupun aku tahu bahwa suatu saat aku akan kembali mengulangi siklus
sialan berjudul cinta.
Terdapat secercah pencerahan setelah melalui belantara hubungan
dua tahun lamanya, aku jadi lebih mengenal diriku sendiri, menemukan jawaban
akan nilai dari diriku sendiri yang selama ini kupertanyakan dalam kepala,
serendah apa hingga di dalam relung hati dan tempurung kepalamu aku tak pantas
menjadi prioritas utama? Berhasil membuka pikiranku akan sosok seperti apa yang
kubutuhkan untuk kupersilahkan bernaung dalam semestaku, dan sayangnya sosok
tersebut bukanlah kamu.
Dan Tuan, di penghujung aksara ini akan kuukir harapan terbaikku
untuk dirimu yang lebih baik lagi. Dirimu yang lebih menundukan rasa egois
dalam hati, dirimu yang melakukan sesuatu untuk menenangkan keadaan dan tidak
hanya memikiran inisiasi tanpa dibarengi dengan aksi. Dirimu yang berhasil
menemukan insan yang lebih baik dariku dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan
yang kau perbuat ketika bersama denganku. Dan yakinlah dengan akhir seperti
ini, akan menjadi hal baik bagi pribadi kita berdua.
Komentar
Posting Komentar