Di Selipan Doa-Doaku
Namamu masih terselip di sana, di dalam doaku
Di saat hujan, di sepertiga
malam, di antara adzan dan iqamah
Di waktu-waktu mustajab,
saat terkabulnya sebuah angan-angan
Lima kali sehari, atau
bahkan kadang lebih dari itu, setiap hari.
Kulangitkan doa-doa itu
setinggi mungkin, namun tetap dengan penuh kerendahan diri, dangan ketulusan yang
paripurna
Doa tentang pengampunan dosa
untukku dan keluarga, tentang kesabaran hati, tentang kebaikan setelah
kehidupan di dunia
Lalu kuisi ujung doa
tersebut dengan nama masih yang sama, dengan namamu
Kemudian kuakhiri dengan
harapan yang masih belum berubah, harapan untuk bisa bersamamu.
Kusampaikan permintaanku
pada Sang Pengatur Segalanya, tentang aku dan kamu yang terikat dalam sebuah
hubungan di masa depan
Hubungan yang akan dimulai
dengan cara yang paling Ia restui perjalanannya
Hubungan yang berjalan
dengan cara yang paling Ia berkahi dari awal hingga akhir
Hubungan yang berakhir di
dunia dengan cara yang paling Ia kehendaki lalu kemudian dipersatukan kembali
di surgaNya.
Kuceritakan
bayangan-bayangan indahku kepada Sang Maha Mendengar
Mengenai apa-apa yang bisa
terjadi jika doaku menjadi kenyataan
Mulai dari keluarga kecil
kita yang tetap bernaung rasa syukur dalam suka dan duka
Hingga tawa bahagia, luka
dan liku yang akan kita terjang bersama dengan berpegang iman dan kepercayaan
akan rencana-Nya.
Kubuat skenario di mana kita
mencapai titik paling romantis di mana kita bisa saling bersentuhan tanpa
membatalkan wudhu masing-masing
Kau dan aku berada dalam
satu hubungan yang terhalalkan untukku mencium keningmu sebelum berangkat kerja
Dan kamu menungguku di
rumah, mengurus usaha kecil-kecilan milik kita sambil mendoakan keselamatan dan
keberhasilanku
Saling berusaha membangun keluarga
yang diberkahi, direstui, dirahmati serta dijaga oleh Sang Maha Cinta.
Coba bayangkan aku
membangunkanmu dan anak-anak di jam setengah tiga dini hari untuk melakukan
sholat malam bersama
Kita sama-sama memanjatkan
doa-doa terbaik untuk keberlangsungan dunia dan akhirat kita
Betapa romantisnya
perjalanan kita menuju surga jika semua kita lakukan bersama
Mulai dari berangkat sholat
tarawih, beritikaf saat bulan suci Ramadhan tiba, menjawab panggilannya untuk
berkunjung ke Baitullah.
Dan semua bayangan itu
terbungkus dalam satu doa kecil
Yang terus mengalir tanpa
henti, tanpa jeda
Dengan penuh harap akan hubungan
yang bahkan dirayakan oleh Pencipta Alam Semesta
Dariku yang tetap berusaha
untuk memantaskan diri, baik untukNya, untukmu, dan untuk kita.
Jadi, bisakah kamu menunggu
sebentar lagi?
Biarkan aku berikhtiar dan
berusaha lebih lama
Mencoba bertaqwa dengan hati
yang lebih istiqomah
Untuk menjadi sosok paling
sempurna sebagai imammu di dunia dan di akhirat nanti.
Komentar
Posting Komentar