Sebuah titik tanpa koma.

Kutelan bulat-bulat kenyataan dimana aku hanyalah peran sampingan dari sang pangeran,
Kutekan kuat-kuat egoku untuk mempertahankan hatimu yang beku, yang perlahan-lahan menolak hangatku,
Kupendam dalam-dalam rindu hingga benar-benar terbungkam, rindu yang biasa kunikmati saat tiba waktu malam,

Retak sudah tekadku,
Cintaku mendebu, menjelma sendu nan kelabu,
Usai sudah harapku,
Selesai sudah kisahku tentangmu.
Terima kasih sudah mendewasakanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Selipan Doa-Doaku

Sebekas Ingatan Yang Kuharap Lekas Kandas Dari Dalam Kepalamu

Kamu Adalah Huruf Pertama Dari Setiap Kalimatku.