Dialog (Palsu)

"Entah mengapa dia yang pernah  menancapkan luka kembali kuingat dan menggoda untuk disapa, namun malu-ku mencegahnya"

Mengapa harus malu bila sapaanmu merupakan upaya melebur rindu?

"Aku takut bila dari sapaanku bisa mengundang kembali kalimat "aku masih menyukaimu" yang pernah menggores pilu"

Bodoh! Trauma akan kesalahan membungkammu untuk menawarkan sebuah keindahan? Atau bahkan mungkin kalimat "Aku juga masih menyukaimu" tertahan hanya karena ragu. Ketahuilah semua insan akan berubah secara perlahan. Kesalahan pasti terjadi, tapi aku yakin ada juga sebuah usaha untuk memperbaiki diri.

"... " Lalu kau hanya terdiam, tersenyum dan pergi setelah kulihat ada secercah keyakinan diwajahmu.

" Terima kasih! Kini aku percaya bahwa kisah lamaku hanyalah cerita dan masa depanku bisa memberi harapan bahagia yang baru" teriakmu dari jauh seraya meninggalkanku.

Aku hanya terseyum sambil melambaikan tangan, lalu berbalik badan,  melepas topeng sandiwara yang kukenakan, dan tenggelam dalam pilu dan kebohongan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Selipan Doa-Doaku

Sebekas Ingatan Yang Kuharap Lekas Kandas Dari Dalam Kepalamu

Kamu Adalah Huruf Pertama Dari Setiap Kalimatku.